Rabu, 01 Agustus 2012

makalah Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat

                                           DAKWAH DAN PEMBERDAYAAN RAKYAT
Oleh: DR. KHMA. Sahal Mahfudz

Dimensi dakwah yang sering kali terabaikan oleh para dai dan ulama adalah persoalan pengembangan masyarakat. Sekarang ini, umat Islam telah berjumlah lebih dari satu miliar orang yang diharapkan akan terus meningkat. Banyak bagian dari dunia Muslim yang tertinggal secara teknologi dan ekonomi.
Mereka sangat menderita dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari dan sangat gagap terhadap perkembangan teknologi. Akibatnya, komunikasi ilmu pengetahuan dan informasi agama Islam yang mestinya dengan mudah bisa diakses, karena kedua kesulitan itulah, menjadikan mereka terus terbelakang dan terus mengalami pembodohan.
Untuk menanggulangi hal itu, tentu saja dibutuhkan kerja sama untuk mengentaskan kemiskinan dan melakukan pemberdayaan terhadap mereka yang terbelakang. Hal itu bisa berwujud dalam bentuk pendidikan keterampilan, pembukaan lapangan kerja, penanggulangan pemakaian obat-obat terlarang, atau pelatihan teknologi tepat guna.
Agenda itu mesti segera dijalankan dengan kerja sama antara organisasi Islam dan pemerintah atau lembaga lain. Sebab, pada dasarnya, tujuan dakwah adalah untuk menyejahterakan umat manusia di muka bumi dan akhirat nanti. Bila keadaan mereka terus merasa tertekan, kesusahan, dan mengalami pembodohan; bagaimana mungkin ibadah yang menekankan pada ketenangan dan kekhusyukan dapat mereka jalankan?
Hal itulah yang seharusnya juga menjadi tantangan dalam dakwah Islam. Para dai atau mubaligh hendaknya juga ada yang mendalami persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Dalam analisis tentang perubahan-perubahan kemasyarakatan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dakwah yang mesti dilakukan. Berdasarkan sebuah hadis Nabi SAW dinyatakan, "Kefakiran dapat membawa ke kekufuran."
Oleh karena itu, untuk menghindari kekufuran, kemiskinan yang menimpa umat Islam harus segera dikurangi jika tak bisa dilenyapkan. Maka dari itu, tema utama dakwah ke lapisan bawah adalah dakwah bil hal, yaitu dakwah yang menekankan perubahan dan perbaikan kondisi material lapisan masyarakat yang miskin. Dengan perbaikan kondisi material itu, diharapkan dapat dicegah kecenderungan ke arah kekufuran atau pindah agama karena mendapatkan godaan santunan ekonomi sehingga iman mereka beralih.
Untuk mewujudkan tatanan masyarakat seperti itu, sumber daya manusia yang melakukan tugas dakwah Islam di era ini tentu saja harus juga memfokuskan dirinya pada wilayah etis-emansipatoris. Terlebih lagi ketika kapitalisme dan globalisasi yang sangat tidak mengindahkan kemanusiaan dan keadilan melaju tanpa henti. Kesadaran kritis-emansipatoris sebagai manifestasi pembumian ayat-ayat Alquran dan sunah Nabi SAW oleh para dai itu tidak harus diartikan sebagai gerakan antikemapanan atau lembaga swadaya masyarakat.
Sebab, kesadaran semacam ini dalam bingkai ilmu pengetahuan dianggap sebagai perwujudan dari sinergi epistemologi dan aksiologi. Dengan pendekatan model inilah, dakwah billisan, bil qalam, dan bil hal bisa dijalankan dalam satu waktu.
Agenda pemberdayaan
Agenda pemberdayaan masyarakat juga sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 110 yang berbunyi, "Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan), dan beriman kepada Allah."
Saya memandang bahwa kontribusi nilai-nilai agama dalam dakwah ini adalah untuk memperbaiki masyakarat, asalkan gerakan dakwah itu bukan sekadar disampaikan tanpa dievaluasi. Contoh sekarang ini adalah kuliah Subuh di televisi yang dilakukan pada pukul lima pagi. Yang bangun pukul lima itu hanya beberapa orang yang sudah kuat agamanya. Kadang-kadang, yang memberi ceramah kuliah Subuh itu sudah kita kenal semua. Mestinya, ceramah agama itu pada waktu-waktu luang. Justru, waktu luang sekarang ini kebanyakan diisi cerita setan, cerita tuyul, dan cerita-cerita yang tidak mendidik anak bangsa.
Berkenaan dengan dakwah yang cenderung menimbulkan 'konflik', saya memandang perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, pentingnya pendidikan. Kedua, pentingnya menghilangkan kesenjangan. Dalam konteks Indonesia, barangkali itu adalah pemerataan karena inilah yang membuat kegagalan pembangunan di era masa lalu. Pada masa itu, di samping tradisi ekonomi kita yang lumayan, kebijakan-kebijakan dalam bidang ekonomi itu banyak diselewengkan.
Dua ratus 'anak haram' konglomerat dari pembangunan ekonomi bangsa adalah 'anak haram' pembangunan ekonomi Orde Baru. Nah, karena itu, dalam pembangunan sekarang ini, jangan sekali-kali kita diarahkan mencetak konglomerat-konglomerat baru yang memaafkan konglomerat-konglomerat lama yang telah berutang pada uang rakyat.
Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang banyak memengaruhi persepsi dan kebutuhan manusia, dakwah Islam memang harus melakukan evaluasi diri, proyeksi, dan penyusunan strategi agar tetap aktual dan kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Dan, dakwah bisa dijadikan sebuah alternatif solusi terhadap berbagai problem dan tantangan kehidupan yang semakin bertumpuk-tumpuk ini.
Dalam meletakkan prioritas solusi alternatif itu, kita harus mengacu pada struktur bangunan dakwah yang bagus berdasarkan analisis, berdasarkan terapi yang total. Sehingga, kontradiksi umat Islam terbesar di dunia sekaligus umat yang terkorup di dunia dapat kita kurangi, bahkan dihilangkan. Di samping itu, para mubaligh kita harus senantiasa memperbarui isi dan penampilan dakwahnya. Jalan yang bisa dilakukan paling tidak adalah dengan melakukan iqra`, banyak membaca. Kedua, para mubaligh seharusnya juga senantiasa mengasah pikiran sebagaimana disindir oleh Alla dalam Alquran.
Dengan begitu, kita harus senantiasa menggunakan pikiran dan analisis dalam struktur dakwah yang kita sajikan kepada masyarakat. Analisis harus kita utamakan dulu sebelum mengambil kesimpulan-kesimpulan umum yang akan kita perhatikan. Dan, yang lebih penting lagi adalah para mubaligh mencari tahu apa sebenarnya masalah utama masyarakat kita. Itu yang menjadikan prioritas pengobatan pertama kita. Kalau kita mendapati pasien sakit liver dan sakit panu, livernya dulu kita obati. Jangan panunya dulu yang diobati. Sebab, panu itu tidak akan membunuh orang. Begitu juga dengan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu, di samping ayat-ayat tentang moralitas dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama manusia, Alquran juga menekankan prinsip keadilan. Dalam prinsip keadilan ini, setiap manusia dituntut untuk berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Maka, masyarakat dan komunitas Muslim yang terbuka serta yang bisa saling melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan introspeksi adalah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh Islam. Kita harus menilai secara sangat positif bahwa dakwah harus memberikan sumbangan untuk nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, di samping sasaran dakwah itu adalah akhlak manusia, juga harus memerhatikan persoalan kemanusiaan.

DAKWAH dalam arti bahasa berarti mengajak, me nyeru, memanggil. Berangkat dan pengeritian bahasa itu, lalu dihubungkan dengan nash Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan dakwah Islam, Syekh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayatu al-Mursyidin me netapkan definisi dakwah sebagai benkut:
Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akherat.
Definisi di atas menunjukkan, dakwah adalah usa ha sadar yang disengaja untuk memberikan motivasi kepada orang atau kelompok (biasa disebut kelompok sasaran) yang mengacu ke arah tercapainya tujuan di atas.
Ilmu manajemen menyebut, salah satu syarat keberhasilan usaha motivasi adalah terpenuhinya kebutuhan kelompok sasaran. Dengan demikian, melakukan kegiatan dakwah yang pada dasarnya adalah memberi motivasi kepada orang lain, perlu memperhatikan kebutuhan kelompok sasaran. Apalagi muara dakwah tidak lain dari tercapainya kesejahteraan dunia dan akhirat. Sesungguhnya dakwah dalam pengertian ini adalah memberdayakan masyarakat atau rakyat.
Pelaku dakwah tentunya harus mengetabui secara persis, menggali kebutuhan kelompok, menggali potensi (manusia, alam dan teknologi) yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kelompok dalam jangka pendek mau pun jangka panjang. Kemampuan melakukan penggalian kebutuhan tidak saja diharapkan bisa mengetahui kebutuhan atau masalah yang mendesak dan mendasar, tetapi juga kemampuan mengantisipasi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang, atas dasar kebutuhan sekarang, perkembangan sosial budaya, perkembangan teknologi dan lingkungan di masyarakat.
Dalarn teori motivasi dikenal adanya hirarki kebutuhan (hierarchy of need). Artinya ada semacam hirarki yang rnengatur dengan sendirinya kebutuhan manusia, mulai kebutuhan fisik, keamanan, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri.
Kebutuhan fisik seperti gaji, upah, tunjangan, honorarium, bantuan pakaian, sewa rumah, uang transportasi dan sebagainya.
Kebutuhan keamanan seperti jaminan masa tua (pensiun), santunan kecelakaan, jaminan asuransi kesehatan, aman dari tindak kejahatan.
Kebutahan sosial seperti orang menjadi anggota kelompok fformal atau informal, menjadi ketua organisasi atau yayasan.
Kebutuhan penghargaan agar orang menghargai, usaha dirinya seperti status, titel, promosi, perjamuan.
Kebutuhan aktualisasi diri, seperti keinginan memaksimalkan potensi diri, menjadi pemuda pelopor, jadi tokoh ideal, atlet pemecah rekor.
Secara umum kebutuhan fisik (makan, sandang, papan) rnenempati urutan teratas. Barulah kebutuhan keamanan dan seterusnya. Dengan kata lain, ketika kebutuhan fisik umumnya sudah terpenuhi, manusia baru termotivasi memenubi kebutuhan lain.
Namun teori ini juga mengakui adanya pengecualian. Ada seseorang yang lebih rnementingkan kebutuhan aktualisasi diri daripada kebutuhan fisik. Contohnya Mahatma Gandhi di India. Meskipun Gandhi secara fisik melarat, tapi berani berjuang bahkan berani mogok makan dalam rangka kemerdekaan diri dan bangsanva. barangkali banyak kasus seperti Gandhi, misalnya pejuang-pejuang kemerdekaan kita, atau para kiai yang shalih dan wara’ atau para santri dan pendukungnya, adalah figur yang tidak terlalu memerlukan kebutuhan fisik. Mereka lebih membutuhkan aktualisasi diri atau sosial.
Berangkat dari teori ini, dakwah harus disesuaikan dengan masyarakat sasaran. Materi dakwah juga perlu dipilah antara untuk kader dakwah dan masyarakat sasaran. Motivasi untuk kader tidak harus sama dengan motivasi untuk kelompok sasaran.
Pemilahan sasaran dakwah secara jeli juga penting, mengingat ketimpangan ekonomi dalam masyarakat sebenarnya semakin melebar. Kalau kita melihat data sekunder kependudukan di Indonesia, maka dapat disebutkan, pada tahun 1990 pendapatan rata-rata setiap orang sebesar Rp 620,- tiap hari. Jumlah itu untuk biaya makan, minum, pendidikan, kesehatan, rokok, perawatan rumah, beli minyak, sewa listrik dan sebagainya.
Ukuran itu digunakan untuk saudara-saudara kita yang mempunyai pabrik, rumah tingkat, deposito pada bank asing, mau pun yang hidup di bawah kolong jembatan dan kekurangan gizi parah. Tidak peduli bagi 30%, penduduk yang hidup tanpa tanah, air bersih atau tanpa perawatan kesehatan dan tanpa pengobatan. Tidak peduli juga bagi 50% penduduk buta huruf yang berusia di atas 15 tahun. Mereka semua diasumsikan berpendapatan sama. Padahal kalau melihat data primer secara empiris, dari desa atau kota, betapa melaratnya rakyat kecil. Sebagian besar di antara penduduk Indonesia yang miskin, mayoritas adalah muslim.
Gambaran di atas rnenurjukkan betapa besar dan luas, sasaran dakwah. Dengan demikian organisasi pemuda yang mempunyai banyak potensi barangkali secara bertahap tetapi pasti harus lebih terpanggil, untuk berdakwah.
PENTING untuk diperhatikan, bila dakwah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kelompok, maka perlu pendekatan yang partisipatif, bukan pendekatan teknokratis. Dengan pendekatan itu, kebutuhan digali oleh motivator dakwah (kader) bersama kelompok sasaran yang akan diberdayakan. Pemecahan masalah direncanakan dan dilaksanakan oleh kader kelompok. Bahkan kegiatan pun dinilai bersama, untuk rnemperbaiki aktifitas selanjutnya. Pendekatan macam ini, perlu sistem monitoring dalam pelaporan yang up to date. Inilah yang sekarang di kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat sedang populer disebut “riset aksi”.
Dengan demikian dakwah tidak dilakukan dengan perencanaan global yang turun dari atas (top down), yang kadang-kadang sampai di bawah tidak menyelesaikan masalah. Perencanaan model top down sering mengabaikan pemetaan masalah, potensi dan hambatan spesifik berdasarkan wilayah atau kelompok, apalagi per jenis kegiatan. Tipe satu kelompok masyarakat di satu desa, tidak akan sama dengan kelompok lain di tempat yang berbeda.
Dakwah inilah yang sekarang disebut dengan dakwah bil hal atau dakwah pembangunan, atau dakwah bil hikmah menurut bahasa Al-Qur’an. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Nahl ayat 125, “Serulah manusia ke jalan, Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantulah mereka dengan cara yang baik.”
Dra Chadidjah Nasution menyebutkan, dakwah bil hikmah adalah berdakwah dengan memusatkan pikiran kepada tugasnya atau tidak mencampuradukkan masalah-masalah lain di dalam pikirannya, sehingga da’i dapat mengetahui apakah yang dibutuhkan oleh penerima dakwahnya.
Orang menyebut dakwah bil hal, barangkali merupakan koreksi terhadap dakwah selama ini yang banyak terfokus kepada dakwah mimbar yang monoton dari sisi penerima dan pembicaranya, sementara dana dan daya habis untuk kegiatan semacam itu tanpa perubahan berarti.
Namun kalau melakukan dakwah bil hal atau dakwah bil hikmah, apakah lalu dakwah bil lisan atau mau’’idhah hasanah ditinggalkan? Sama sekali tidak. Sebab tetap ada media untuk dakwah model mau’idhah hasanah. Dakwah mimbariyah tetap perlu dalam konteks tertentu, misalnya soal giliran khatib Jum’at, atau seorang kepala keluarga yang memberi nasihat kepada anak istri dan anggota keluarga lain, sebagai pengasuh/guru untak menasehati anak didik.
Juga tidak ditinggalkan cara berdakwah yang ketiga, yaitu mujadalah yang lebih ahsan atau seperti dalam forum dialog, seminar, simposium, atau diskusi-diskusi.
Melihat sasaran dakwah yang begitu luas, sementara perkembangan teknologi begitu pesatnya, maka dakwah perlu menggunakan media sesuai dengan kelompok sasaran. Klasifikasinya ditinjau dari umur, status sosial, tingkat pendidikan dan kebutuhan kelompok sasaran itu sendiri.
Dengan menyebarnya rnedia yang beragam, segala kecanggihan teknologi di tengah masyarakat serta cepatnya arus informasi, tanpa menggunakan media yang sesuai, maka kelompok sasaran akan enggan dan malas menerima penampilan dakwah yang dilakukan secara konvensional. Pada akhirnya dakwah yang dilakukan tidak memenuhi selera sasaran dan tujuan, meski berjalan, tetapi tetap berada di tempat. Mundur tidak maju pun tidak.
Data statistik menunjukkan kemunduran jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Ini banru secara kuantitatif.Belum lagi kalau yang berkurang adalah orang yang ‘abid dan shaleh, maka itu sudah menyangkut kualitas. Artinya angka orang yang benar-benar muslim mungkin lebih sedikit dari yang diduga orang.
Di samping menggunakan media yang dapat diterima oleh kelompok sasaran, diperlukan arah dan strategi yang matang. Soalnya, dakwah beorientasi pada pencapaian sasaran itu, tidak berada dalam “ruangan” yang hampa. “Ruang” sudah berisi budaya, teknologi, sistem nilai dan peraturan perundangan yang mengikat. Kelompok sasaran dakwah adalah warga negara Indonesia yang bernaung di bawah negara kesatuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan. Agar dakwah berdaya guna dan berhasil guna, maka harus mengacu pada pencapaian tujuan dan memakai strategi yang bisa mengatasi hambatan yang diperkirakan.
Dari sini da’i dituntut untak melakukan persiapan sosial yang matang, perencanaan yang mendasar sampai kepada data empiris, terkoordinasi misalnya dengan sesama organisasi NU mau pun non-NU. Sehingga dengan demikian tidak terjadi over lapping antar sesama organisasi NU atau persaingan tidak sehat dengan organisasi lain.
Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan dakwah dengan jangkauan begitu luas dan begitu beragam pendekatannya? Kalau kita menyandarkan diri kepada A1-Qur’an surat Ali Imron ayat 104, maka kewajiban dakwah itu diharuskan kepada sebagian atau segolongan umat Islam. Maka dari itu ada yang berpendapat, dakwah hukumnya fardlu kifayah.
Namun persoalannya siapa segolongan umat itu? Golongan kiai, golongan orang kaya, golongan intelektual atau sebagian dari setiap golongan tersebut? Melihat kompleknya masalah. dakwah tersebut diatas, maka semua lapisan muslim yang mempunyai kelebihan bertanggung jawab untuk melakukan dakwah sesuai dengan kemampuan dan sasarannya.
Dakwah juga bisa dalam bentuk pengembangan masyarakat. Keduanya tidak jauh berbeda. Sebab pengembangan masyarakat atau pemberdayaan rakyat adalah proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah kepada peningkatan taraf hidup dan kesejahteran masyarakat. Proses tersebut mengandung kegiatan yang diharapkan dapat mengubah dan mengembangkan sikap, gaya hidup, pola berpikir serta meningkatkan kesadaran masyarakat. Setidaknya ada kesamaan antara keduanya. Ia sama-sama ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat atau sekelompok sasaran. Dan ia sama-sama meningkatkan kesadaran dari berperilaku tidak baik, untuk berperilaku yang baik.
Di samping ada kesamaan di atas, usaha dakwah bil hal mempunyai implikasi terhadap pengembangan masyarakat, yaitu:
·      Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, pendapatannya bertambah untuk membiayai pendidikan keluarga, atau memperbaiki kesehatan.
·      Dapat menarik partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sebab masyarakat terlibat sejak perencanaan sampai pelaksanaan usaha dakwah bil hal.
·      Dapat menumbuhkan atau mengembangkan swadaya masyarakat dan dalam proses jangka panjang bisa menumbuhkan kemandirian.
·      Dapat rnengembangkan kepemimpinan daerah setempat, dan terkelolanya sumber daya manusia yang ada. Sebab anggota kelompok sasaran tidak saja jadi obyek kegiatan, tetapi juga menjadi subyek kegiatan.
·      Terjadinya proses belajar-mengajar antara sesama warga yang terlibat dalam kegiatan. Sebab kegiatan direncanakan dan dilakukan secara bersarna. Hal ini menimbulkan adanya sumbang saran secara timbal balik.
Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat
Dimensi dakwah yang sering kali terabaikan oleh para dai dan ulama adalah persoalan pengembangan masyarakat. Sekarang ini, umat Islam telah berjumlah lebih dari satu miliar orang yang diharapkan akan terus meningkat. Banyak bagian dari dunia Muslim yang tertinggal secara teknologi dan ekonomi.
Mereka sangat menderita dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari dan sangat gagap terhadap perkembangan teknologi. Akibatnya, komunikasi ilmu pengetahuan dan informasi agama Islam yang mestinya dengan mudah bisa diakses, karena kedua kesulitan itulah, menjadikan mereka terus terbelakang dan terus mengalami pembodohan.
Untuk menanggulangi hal itu, tentu saja dibutuhkan kerja sama untuk mengentaskan kemiskinan dan melakukan pemberdayaan terhadap mereka yang terbelakang. Hal itu bisa berwujud dalam bentuk pendidikan keterampilan, pembukaan lapangan kerja, penanggulangan pemakaian obat-obat terlarang, atau pelatihan teknologi tepat guna.
Agenda itu mesti segera dijalankan dengan kerja sama antara organisasi Islam dan pemerintah atau lembaga lain. Sebab, pada dasarnya, tujuan dakwah adalah untuk menyejahterakan umat manusia di muka bumi dan akhirat nanti. Bila keadaan mereka terus merasa tertekan, kesusahan, dan mengalami pembodohan; bagaimana mungkin ibadah yang menekankan pada ketenangan dan kekhusyukan dapat mereka jalankan?
Hal itulah yang seharusnya juga menjadi tantangan dalam dakwah Islam. Para dai atau mubaligh hendaknya juga ada yang mendalami persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Dalam analisis tentang perubahan-perubahan kemasyarakatan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dakwah yang mesti dilakukan. Berdasarkan sebuah hadis Nabi SAW dinyatakan, "Kefakiran dapat membawa ke kekufuran."
Oleh karena itu, untuk menghindari kekufuran, kemiskinan yang menimpa umat Islam harus segera dikurangi jika tak bisa dilenyapkan. Maka dari itu, tema utama dakwah ke lapisan bawah adalah dakwah bil hal, yaitu dakwah yang menekankan perubahan dan perbaikan kondisi material lapisan masyarakat yang miskin. Dengan perbaikan kondisi material itu, diharapkan dapat dicegah kecenderungan ke arah kekufuran atau pindah agama karena mendapatkan godaan santunan ekonomi sehingga iman mereka beralih.
Untuk mewujudkan tatanan masyarakat seperti itu, sumber daya manusia yang melakukan tugas dakwah Islam di era ini tentu saja harus juga memfokuskan dirinya pada wilayah etis-emansipatoris. Terlebih lagi ketika kapitalisme dan globalisasi yang sangat tidak mengindahkan kemanusiaan dan keadilan melaju tanpa henti. Kesadaran kritis-emansipatoris sebagai manifestasi pembumian ayat-ayat Alquran dan sunah Nabi SAW oleh para dai itu tidak harus diartikan sebagai gerakan antikemapanan atau lembaga swadaya masyarakat.
Sebab, kesadaran semacam ini dalam bingkai ilmu pengetahuan dianggap sebagai perwujudan dari sinergi epistemologi dan aksiologi. Dengan pendekatan model inilah, dakwah <I>billisan, bil qalam<I>, dan <I>bil hal<I> bisa dijalankan dalam satu waktu.
Agenda pemberdayaan
Agenda pemberdayaan masyarakat juga sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 110 yang berbunyi, "Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan), dan beriman kepada Allah."
Saya memandang bahwa kontribusi nilai-nilai agama dalam dakwah ini adalah untuk memperbaiki masyakarat, asalkan gerakan dakwah itu bukan sekadar disampaikan tanpa dievaluasi. Contoh sekarang ini adalah kuliah Subuh di televisi yang dilakukan pada pukul lima pagi. Yang bangun pukul lima itu hanya beberapa orang yang sudah kuat agamanya. Kadang-kadang, yang memberi ceramah kuliah Subuh itu sudah kita kenal semua. Mestinya, ceramah agama itu pada waktu-waktu luang. Justru, waktu luang sekarang ini kebanyakan diisi cerita setan, cerita tuyul, dan cerita-cerita yang tidak mendidik anak bangsa.
Berkenaan dengan dakwah yang cenderung menimbulkan 'konflik', saya memandang perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, pentingnya pendidikan. Kedua, pentingnya menghilangkan kesenjangan. Dalam konteks Indonesia, barangkali itu adalah pemerataan karena inilah yang membuat kegagalan pembangunan di era masa lalu. Pada masa itu, di samping tradisi ekonomi kita yang lumayan, kebijakan-kebijakan dalam bidang ekonomi itu banyak diselewengkan.
Dua ratus 'anak haram' konglomerat dari pembangunan ekonomi bangsa adalah 'anak haram' pembangunan ekonomi Orde Baru. Nah, karena itu, dalam pembangunan sekarang ini, jangan sekali-kali kita diarahkan mencetak konglomerat-konglomerat baru yang memaafkan konglomerat-konglomerat lama yang telah berutang pada uang rakyat.
Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang banyak memengaruhi persepsi dan kebutuhan manusia, dakwah Islam memang harus melakukan evaluasi diri, proyeksi, dan penyusunan strategi agar tetap aktual dan kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Dan, dakwah bisa dijadikan sebuah alternatif solusi terhadap berbagai problem dan tantangan kehidupan yang semakin bertumpuk-tumpuk ini.
Dalam meletakkan prioritas solusi alternatif itu, kita harus mengacu pada struktur bangunan dakwah yang bagus berdasarkan analisis, berdasarkan terapi yang total. Sehingga, kontradiksi umat Islam terbesar di dunia sekaligus umat yang terkorup di dunia dapat kita kurangi, bahkan dihilangkan. Di samping itu, para mubaligh kita harus senantiasa memperbarui isi dan penampilan dakwahnya. Jalan yang bisa dilakukan paling tidak adalah dengan melakukan iqra`, banyak membaca. Kedua, para mubaligh seharusnya juga senantiasa mengasah pikiran sebagaimana disindir oleh Allah dalam Alquran.
Dengan begitu, kita harus senantiasa menggunakan pikiran dan analisis dalam struktur dakwah yang kita sajikan kepada masyarakat. Analisis harus kita utamakan dulu sebelum mengambil kesimpulan-kesimpulan umum yang akan kita perhatikan. Dan, yang lebih penting lagi adalah para mubaligh mencari tahu apa sebenarnya masalah utama masyarakat kita. Itu yang menjadikan prioritas pengobatan pertama kita. Kalau kita mendapati pasien sakit liver dan sakit panu, livernya dulu kita obati. Jangan panunya dulu yang diobati. Sebab, panu itu tidak akan membunuh orang. Begitu juga dengan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu, di samping ayat-ayat tentang moralitas dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama manusia, Alquran juga menekankan prinsip keadilan. Dalam prinsip keadilan ini, setiap manusia dituntut untuk berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Maka, masyarakat dan komunitas Muslim yang terbuka serta yang bisa saling melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan introspeksi adalah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh Islam. Kita harus menilai secara sangat positif bahwa dakwah harus memberikan sumbangan untuk nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, di samping sasaran dakwah itu adalah akhlak manusia, juga harus memerhatikan persoalan kemanusiaan.
Judul               : Dakwah Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi Metodologi
Pengantar        : Prof. Soetandyo Wingnyosoebroto, MPA
Editor              : Moh. Ali Aziz, Rr. Suhartini, A. Halim
Penerbit           : Pustaka Pesantren
Cetakan           : I/2005
Tebal               : 420 halaman

Pengembangan masyarakat merupakan sebuah wacana dalam ilmu sosial, khususnya dalam studi pembangunan yang menempati arti tersendiri. Hal ini didasarkan pada debat kontemporer mengenai proses pembangunan sejak dipertanyakan perspektif modernisasi dalam pembangunan yang sarat akan bias perkembangan negara “maju”. Pengembangan masyarakat menjadi semacam spirit atas sebuah pardigma pembangunan yang tidak lagi delivered yang mana direncanakan oleh “atas” atau bahkan mengikuti pola “Barat”, tetapi sebagai sebuah pembangunan yang berwarna people centered. Dengan berkembangnya gagasan-gagasan dalam teori dependensia yang ingin secara lebih mandiri dan kontekstual melakukan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, perinsip bottom up menjadi sebuah kata yang menjanjikan atas dasar kegagalan berbagai negara dalam menyejahterakan rakyatnya.
Dalam buku ini ditulis sebuah pemetaan atas berbagi konsepsi dasar pengembangan masyarakat. Selain itu, buku ini mencoba menganalisis sejauh mana relevansinya dengan upaya dakwah dalam pemahaman mengenai dakwah sebagai upaya menggaktualisasikan nilai-nilai Islam tidak sekedar dipahami sebagai cara-cara penyampaian ajaran Islam secara verbal yang wujudnya hanya tabligh saja, melainkan dipahami sebagai wujud penerapan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Konsepsi akan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dalam perspektif agama masih relevan dalam konteks pengembangan masyarakat dengan beberapa asumsi sebagai berikut.
Pertama, Pengembangan masyarakat pada dasarnya merencanakan dan menyiapkan suatu perubahan sosial bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia.dengan meletakkan sebuah tatanan sosial yang menempatkan manusia secara adil dan terbuka dalam melakukan usaha sebagai perwujudan atas kemampuan dan potensi yang dimiliki sehingga kebutuhan (material dan spiritual) dapat terpenuhi.
Kedua, pengembangan masyarakat bukan suatu proses pemberian dari pihak yang memiliki sesuatu kepada pihak yang tidak memiliki. Kerangka pemahaman ini akan menjerumuskan kepada usaha-usaha yang sekedar memberikan kesenangan sesaat dan bersifat tambal sulam.
Ketiga, pengembangan masyarakat merupakan proses pembelajaran kepada masyarakat agar dapat melakukan upaya-upaya perbaikan kualitas kehidupan mereka secara mandiri. Pengembangan masyarakat sesungguhnya merupakan sebuah proses kolektif dimana kehidupan berkeluarga, bertetangga, dan bernegara tidak sekedar menyiapkan berbagai penyesuaian terhadap perubahan sosial yng dilalui, tetapi secara aktif mengarahkan perubahan tersebut pada terpenuhinya kebutuhan bersama.
Keempat, pengembangan masyarakat mustahil dilaksanakan tanpa ada keterlibatan secara penuh dari masyarakat itu sendiri. Partisipasi bukan hanya sekedar kehadiran masyarakat dalam sebuah kegiatan, melainkan kontribusi masyarakat dalam setiap tahapan yang mesti dilalui oleh suatu program kerja pengembangan masyarakat, terutama dalam tahap perumusan kebutuhan masyarakat yang harus terpenuhi. Asumsinya, masyarakatlah yang paling tahu kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi.
Kelima, pengembangan masyarakat selalu ditandai dengan pemberdayaan masyarakat (people empowerment). Tidak akan ada suatu keterlibatan masyarakat dalam suatu program pengembangan bila masyarakat itu sendiri tidak memiliki kemampuan yang cukup. Oleh karena itu, suatu mekanisme dan sistem pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat diberi pengertian bahwa tanpa adanya keterlibatan mereka secara penuh, tidak akan ada perbaikan kualitas kehidupan.
Secara umum, ada empat strategi pengembangan masyarakat, yaitu:
1.        The Growth Strategy, yaitu pengembangan pada pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan per kapita penduduk, produktifitas, pertanian, permodalan, dan kesempatan kerja yang disertai dengan kemampuan konsumsi masyarakat.
2.        The Welfare Strategy, yaitu strategi untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3.        The Responsitive Strategy, yaitu reaksi terhadap strategi kesejahteraan yang dimaksudkan untuk menanggapi kebutuhan yang dirumuskan masyakat sendiri dengan bantuan pihak luar (self need and assistance).
4.        The Integrated or Holistic strategy, yaitu strategi yang secara sistematis mengintegrasikan seluruh komponen dan unsur yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang menyangkut kelangsungan pertumbuhan, persamaan, kesejahteraan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan secara simultan.
            Selanjutnya, dalam buku ini dijelaskan mengenai perbandingan antara dakwah pengembangan masyarakat dan dakwah konvensional yang selama ini dikenal dan dianut oleh para pelaku dakwah. Berikut tabel dikotomi perbandingan antara dakwah model pengembangan masyarakat Islam dan dakwah konvensional.
No
Unsur-Unsur
Dakwah
Model Dakwah
Pengembangan Masyarakat
Model Dakwah
Konvensional
1
Subjek dakwah
Dai, muballigh dan masyarakat
Dai, mubaligh, dan ustadz
2
Objek dakwah
Kondisi sosio-kultural masyarakat
Masyarakat
3
Sifat dai
Fasilitator dan transformer nilai agama
Komunikator agama
4
Sifat objek dai
Aktif partisipatif dan sustainable
Statis, top-down, one way, dan sustainable
5
Metode dakwah
Dialog dan interaksi sosial (mujadalah)
Lebih banyak hikmah dan mau’idhah hasanah
6
Materi dakwah
Dibicarakan bersama sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat (bottom-up)
Lebih banyak ditentukan oleh dai (pelaku dakwah/top-down)
7
Bentuk dakwah
Advokasi dan pemihakan kepada yang lemah (dakwah bil hal)
Lebih banyak bentuk syiar agama
8
Strategi dakwah
Integrated or Holistic strategy
Partial strategy
9
Manajemen dakwah
Efektif, karena sejak awal menerapkan prinsip manajemen (planning, organizing, actuating, dan controlling)
Kurang efektif, karena tidak sepenuhnya menerapkan prinsip manajemen
10
Media dakwah
Disesuaikan dengan kondisi masyarakat
One way media seperti TV dan radio
11
Target dakwah
Masyarakat mengetahui, merumuskan, dan memecahkan problema sendiri
Tidak jelas
            Paradigma dakwah pengembangan masyarakat merupakan suatu gerakan transformasi sebagai gerakan kultural yang didasarkan pada liberalisasi, humanisasi, dan transendensi yang profetik. Dalam proses ini yang berlaku adalah pendampingan, bukan pengarahan apalagi pemaksaan.
            Dengan demikian, dakwah pengembangan masyarakat ini akan membawa perubahan sejarah kehidupan masyarakat oleh masyaraktnya sendiri secara partisipatif, terbuka, dan emansipatoris.

0 komentar:

Poskan Komentar

Adsense Indonesia
Review wachidskom.blogspot.com on alexa.com
Loading...

Followers

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More