This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 04 September 2012

MAKALAH ANAK MENCARI KASIH SAYANG DI LUAR RUMAH KARENA KESIBUKAN OTANG TUA


ANAK MENCARI KASIH SAYANG DI LUAR RUMAH KARENA KESIBUKAN OTANG TUA
A.    Latar Belakang
   Manusia, termasuk anak dan remaja adalah mahluk sosial yang senantiasa melakukan interaksi yang terbuka dengan berbagai faktor yang sulit dideteksi secara jelas, dan memungkinkan lebih bersifat individual. Profesi pekerjaan sosial merupakan profesi yang  bertanggung jawab atas masalah sosial kenakalan remaja, menunjuk ketidakmampuan orang tua sebagai penyebab kenakalan remaja, yang dalam hal ini berarti keluarga. Orang tua seharusnya memiliki kompetensi untuk mengendalikan anak-anak mereka, terutama yang sedang memasuki masa remaja. Sosiolog memandang disorganisasi sosial sebagai penyebab terjadinya kenakalan semaja, sedangkan psikolog mengacu pada pandangan Freud, bahwa kenakalan remaja disebabkan oleh terjadinya inner conflict, kelabilan emosional dan emosi alam bawah sadar lainnya.
Keluarga sering dianggap sebagai sumber tunggal dari banyak masalah sosial. Teoritisi Fungsionalis beranggapan bahwa ketidakmampuan orang tua mengatur waktu untuk anak mereka mengakibatkan anak-anak mereka mencari hubungan-hubungan alternatif seperti gang, kelompok kriminal, dan kelompok sebaya yang menyimpang lainnya. Bagi Teoritisi Konflik, keluarga adalah sumber masalah sosial ketika nilai-nilai yang diajarkan bertentangan dengan masyarakat yang lebih besar. Para sosiolog mengabaikan perspektif teoritis tentang keluarga tersebut dan cenderung memfokuskan pada apa yang dapat dilakukan oleh institusi-institusi dalam masyarakat, terutama institusi-institusi kesejahteraan sosial, untuk mempertahankan dan memperkuat stabilitas keluarga.
            Keluarga sebagai ikatan sosial pertama yang dialami oleh seseorang. Di dalam keluargalah anak belajar untuk hidup sebagai mahluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungannya (learning to live as a social being) (Brill, 1978). Keluarga merupakan wadah pertama bagi seseorang untuk mempelajari bagaimana dirinya merupakan suatu pribadi yang terpisah dan harus berinteraksi dengan orang-orang lain di luar dirinya. Interaksi sosial yang terjadi dalam keluarga ini merupakan suatu komponen vital dalam sosialisasi seorang manusia. Anak akan menyerap berbagai macam pengetahuan, norma, nilai, budi pekerti, tatakrama, sopan santun, serta berbagai keterampilan sosial lainnya yang sangat berguna dalam berbagai kehidupan masyarakat. Anak akan belajar bagaimana memikul rasa bersalah, bagaimana menghadapi secara konstruktif berbagai tanggapan anggota keluarganya yang lain, anak akan mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, kepuasan, dan cinta kasih terhadap sesama mahluk. Dengan demikian, keluargalah pelaku pendidikan utama bagi seorang anak menjadi manusia secara penuh, manusia yang mampu hidup bersama manusia lain dalam lingkungannya yang diliputi suasana harmonis, bukan manusia congkak yang memiliki dorongan agresi, merusak, dan mengganggu lingkungan sosialnya.
            Suatu keluarga yang penuh dengan kehangatan, cinta kasih, dan dialog terbuka akan diserap oleh anak dan dijadikan sebagai nilainya sendiri. Hal inilah yang menjadi landasan kuat anak dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat yang lebih luas. Pada kenyataannya, keluarga dengan kondisi seperti itu tidak selalu terbentuk. Banyak keluarga yang penuh dengan kekerasan, akibat berbagai situasinya tidak sempat mendidik anaknya menjadi manusia yang secara sosial memiliki kematangan. Banyak keluarga yang merasa lingkungan sosialnya kurang aman sehingga melarang anak-anaknya bergaul di luar rumah, sedangkan orang tuanya sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Keluarga akan menghasilkan manusia yang “kering”, “kerdil” dan “tidak bersahabat”. Inilah yang memungkinkan menjadi pra kondisi bagi kenakalan anak dan remaja. Anak akan menyerap perilaku, kebiasaan, tatakrama, serta norma yang berasal dari televisi tanpa mendapat bimbingan yang cukup berarti dari kedua orang tuanya. Anak akan menyerap tanpa evaluasi, atas perilaku orang lain yang diamatinya.[1]
B.     Permasalahan
Dari sedikit pemaparan pada pendahuluan diatas, maka pemakalah dapat menarik beberapa permasalahan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Hal-hal apasaja yang membuat anak mencari kasih sayang di luar rumah?
2.      Efek apa yang ditimbulkankan dari anak yang mencari kasih sayang di luar rumah?  
C.     Pembahasan
Anak merupakan mahkluk sosial, yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya, anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangan pada masa kanak-kanak (anak). Perkembangan pada suatu fase merupakan dasar bagi fase selanjutnya.[2]
Keluarga menurut Salvicion dan Ara Celis (1989) : Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.[3]
Charles Zastrow, 1982: Pekerjaan Sosial merupakan sebuah aktivitas profesional dalam menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan untuk menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif dalam mencapai tujuannya.
Pengertian kasih sayang menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1998) adalah “suatu ungkapan perasaan cinta dan suka yang tulus tanpa mengharap imbalan seperti kasih sayang orang tua ke anaknya. Tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kasih sayang orang tua kepada anak sangatlah penting untuk membentuk kepribadian dari seorang anak. Lingkungan berperan dalam pembetukan karakter dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seorang anak juga.
Hal-hal yang menyebabkan anak mencari kasih sayang di luar rumah yaitu:
·        Reaksi frustasi diri
·        Gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja
·        Kurangnya kasih sayang orang tua / keluarga
·        Kurangnya pengawasan dari orang tua / kesibukan orang tua
·        Dampak negatif dari perkembangan teknologi modern
·        Dasar-dasar agama yang kurang
·        Tidak adanya media penyalur bakat/hobi
·        Masalah yang dipendam
·        Broken home
·        Pengaruh kawan sepermainan
·        Relasi yang salah
·        Lingkungan tempat tinggal
·        Informasi dan tehnologi yang negatif
·        Pergaulan
Efek yang ditimbulkan dari seorang anak yang mencari kasih sayang di luar rumah terdapat dua macam adalah:
a.       Segi Positif  adalah
§  anak mendapat pengalaman baru tentang dunia luar
§  anak mempunyai banyak teman
§  mudah beradaptasi dengan anak teman sepergaulannya
b.      Segi Negatif adalah
§  Anak mudah terpengaruh pada perilaku menyimpang
§  Pergaulan anak tidak terpantau oleh orang tua
§  Di masyarakat dikucilkan
§  Apabila mempunyai masalah dalam kelompoknya kemungkinan besar pendidikannya tidak terurus 

klik link di bawah ini ya kawan sebagai tanda ucapan trimakasih balik.......



[1] http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/uke_h_rasalwati.htm
[2] Suryabrata, Sumadi, 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta
[3] http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2104939-pengertian-keluarga-menurut-para-ahli/#ixzz1vx0iSJJw

Kamis, 09 Agustus 2012

Makalah psikologi tentang Perilaku Agresif Remaja


PERILAKU AGRESIF REMAJA
                                                     Disusun Oleh:  Evi Witanti         

PERILAKU AGRESIF REMAJA
Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, di kompleks-kompleks perumahan, bahkan di pedesaan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita semua.
Aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan remaja sebenarnya adalah prilaku agresi dari diri individu atau kelompok. Agresif merupakan suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dengan maksud untuk melukai, menyakiti, dan membahayakan orang lain atau dengan kata lain dilakukan dengan sengaja. Tidak hanya dilakukan untuk melukai korban secara fisik, tetapi juga secara psikis (psikologis). Keagresifan Remaja merupakan kesalahan dalam penyesuaian diri disuatu lingkungan yang berbentuk kenakalan, kebrutalan, kekerasan, dan kemarahan. Remaja sangat rentang berperilaku agresif karena mereka dalam proses mencari jati diri, mereka belum bisa mengendalikan luapan emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata verbal dan perilaku non verbal. Perilaku Agresif Remaja ini kebanyakan dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP, SMA Bahkan Mahasiswa.  Remaja adalah seorang anak yang bisa dibilang berada pada usia tanggung, mereka bukanlah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi juga bukan orang dewasa yang bisa dengan mudah akan membedakan hal mana yang baik dan mana yang berakibat buruk. Agresif juga dapat bersifat positif seperti dalam olahraga, agresif untuk menjadi nomor satu, memenangkan kompetisi. Namun  yang dibahas disini adalah agresif yang negatif.
Bagi masyarakat kita terutama dikota-kota besar seperti jakarta, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Seperti yang kita ketahui bersama untuk saat ini beberapa televisi (baik nasional maupun swasta) bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan yang dominan dilakukan oleh remaja. Kalau kita perhatikan kebanyakan remaja bangga melakukan kekerasan, mereka ingin membuat atau mengukir prestasi melalui kekerasan bukan berpresatsi melalui jalur pendidikan.
Kauffman (1985) memaparkan penyebab perilaku agresif dari berbagai sudut pandang teori secara holistik, yaitu faktor bilogis, psikodinamika, frustrasi-agresif, dan teori belajar sosial.
a. Teori Biologis diasumsikan bahwa perilaku agresif merupakan perilaku instink, respon kelainan hormon dan susunan kimiawi dalam tubuh, akibat getaran-getaran elektrik yang terjadi pada susunan syaraf pusat. Faktor biologis bukan satu-satunya yang mempengaruhi perilaku agresif.
b. Teori Psikodinamika, agresif merupakan dorongan negatif dari agresi (id), karena lemahnya fungsi kesadaran individu yaitu ego dan superego. Teori frustrasi-Agresif, menjelaskan bahwa frustrasi selalu mengakibatkan perilaku agresif, dan perilaku agresif selalu bersumber dari kondisi frustrasi.
c. Teori Belajar Sosial, bahwa perilaku agresif bersumber dari hasil belajar atau hasil peniruan (imitasi) dan hasil penguatan.
Pengendalikan Perilaku Agresif pada Anak
Perilaku agresif pada anak dapat diatasi, dikurangi bahkan untuk dihilangkan. Untuk membantu mereka agar terlepas dari perilaku agresif diperlukan teknik dan pendekatan yang komprehensif dan koordinatif. Adapun yang dapat kita lakukan, baik di sekolah maupun di rumah, di antaranya melalui berbagai metoda dan teknik sebagai berikut:
Ø  Memahami dan menerima pribadi anak
Pemahaman terhadap anak meruparukan hal mutlak, terlebih pemahaman terhadap anak agresif yang memerlukan bantuan.
Setelah dipahami pribadi anak, kita berupaya untuk menerima apa adanya dan sebagaimana mestinya. Pemahaman dan penerimaan akan menumbuhkan sikap simpati dan mungkin empati pada kita/guru. Simpati dan empati akan menubuhkan kepercayaan, hal ini merupakan modal untuk mengarahkan perilaku-perilaku anak ke arah nonagresif.
Ø  Ciptakan PAKEM.
PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan), akan tercipta apabila program pembelajaran yang pleksibel, disesuaikan dengan kemampuan setiap anak, pengelolaan kelas yang memberikan rasa aman, kenyamanan dan menyenangkan. Dengan terciptanya PAKEM akan mengurangi kondisi-kondisi yang mendorong kegagalan sebagai benih frustrasi. Dengan terhidar dari sifat frustrasi berarti mengurangi perilaku agresif.
Ø  Melakukan catharsis
Melakukan catharsis yaitu menyalurkan perilaku agresif ke aktivitas yang positif dan terhormat, seperti anak yang suka menendang atau memukul teman-teman, merusak benda atau barang di sekitarnya, kita arahkan dan kembangkan motivasi untuk kegiatan bermain drama, sepak bola, bola volly, main hokey dsb. Anak yang suka memaki-maki, marah yang tidak terkendali, menghina, mencemooh orang lain, kita arahkan ke aktivitas yang positif, seperti membaca puisi, bermain peran atau drama, bernyanyi, berceritera dsb. Dengan kegiatan tersebut anak akan merasa puas dan energi agresif akan tersalurkan, terbebas dari membahayakan dirinya maupun orang lain, diterima oleh masyarakat dan mungkin menjadi kebanggaan bagi dirinya. Menurut Freud, energi agresif dapat dikeluarkan dan diterima pada kehidupan sosial seperti melalui pekerjaan atau permainan yang bertenaga, lebih sedikit aktivitas yang tidak diinginkan seperti menghina orang lain, perkelahian, atau pengrusakan.

a. Menghapuskan pemberian imbalan.
Menghapuskan pemberian imbalan atau istilah lain penguatan negatif, yaitu menghilangkan rangsangan yang tidak menyenangkan (hukuman) setelah ditampilkan perilaku yang diharapkan akan memperkuat munculnya frekuensi perilaku yang diharapkan tersebut. Penghilangan yaitu menahan ganjaran yang diharapkan seperti yang diberikan sebelumnya akan menurunkan frekuensi munculnya perilaku yang semula mendapat penguatan. Penundaan berarti meniadakan ganjaran karena belum ditampilkan perilaku tertentu yang diharapkan, maka akan menurunkan frekuensi munculnya perilaku yang tidak diinginkan.
b. Strategi memperagakan/pelatihan
Upaya yang dilakukan melalui peragaran atau penampilan dalam pemecahan suatu masalah yang tidak menggunakan perilaku agrasif. Tanggapan yang tidak cocok/bertentangan dengan agresi boleh juga ditanamkan dengan memperagakan atau strategi pelatihan. Ketika anak melihat suatu contoh dan memilih solusi yang tidak agresif terhadap suatu konflik atau dengan tegas dilatih dalam pemakaian metoda-metoda yang tidak agresif tentang pemecahan masalah, mereka menjadi lebih mungkin untuk menetapkan solusi yang serupa kepada permasalahan mereka sendiri. Pelatihan metoda yang efektif dalam mengatasi konflik secara berkesinambungan merupakan hal yang utama dan bermanfaat bagi anak yang agresif.
Ø  Menciptakan lingkungan nonagresif
Jika kita bermaksud untuk mengurangi timbulnya perilaku agresif pada anak, maka kita harus membebaskan lingkungan sekitar dari perilaku-perilaku agresif, menghilangkan rangsangan-rangsangan yang dapat menumbuhkan perilaku agresif. Misalnya dengan menghilangkan tontonan, bacaan, yang memperlihatkan kekerasan, keberutalan, kesadisan dsb, terutama film-film adegan-adengan yang ada pada TV, komik, dan bacaan lainnya.
Ø  Mengembangkan sikap empati
Anak-anak prasekolah dan individu sangat agresif lain bisa tidak berempati dengan korban-korban mereka. Mereka mungkin tidak merasa menderita walaupun merugikan orang lain (berperilaku agresif). Kita dapat membantu mengembangkan sikap empati mereka melalui contoh kegiatan, seperti: a) menunjukan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya dari tindakan-tindakan anak yang agresif, b) menempatkan anak di tempat kejadian korban dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi korban.
Ø  Hukuman
Apabila pendekatan-pendekatan di atas tidak efektif, maka dapat dilakukan dengan memberi hukuman yang bersifat mendidik dan manusiawi. Adapun pedoman yang harus dijadikan acuan apabila memberi hukuman yaitu:
a) Gunakan hukuman hanya setelah metode koreksi positif telah gagal dan ketika membiarkan perilaku tersebut berlanjut akan menyebabkan konsekuensi-konsekuensi negatif yang lebih serius daripada tingkat hukuman yang dilakukan.
b) Hukuman harus digunakan hanya oleh orang-orang yang memiliki kedekatan dan penuh kasih sayang terhadap anak ketika tingkah lakunya dapat diterima dan yang menawarkan banyak dukungan positif untuk perilaku non-agresif.
c) Menghukum seperti apa adanya, tanpa kejengkelan, ancaman, atau melanggar moral.
d) Hukuman harus bersifat adil, konsisten dan segera.
e) Hukuman harus intens secara akal dan proporsional.
f) Bila memungkinkan, hukuman harus melibatkan biaya respons (kehilangan hak-hak istimewa atau hadiah atau menarik diri dari perhatian) daripada perlakuan permusuhan.
g) Bila memungkinkan, hukumannya harus terkait langsung dengan perilaku agresif, memungkinkan anak untuk membuat restitusi, dan/atau mempraktekkan perilaku alternatif yang lebih adaptif.
h) Jangan langsung memberikan penguatan positif segera setelah hukuman, anak mungkin belajar berperilaku agresif kemudian menanggung hukuman untuk mendapatkan dukungan.
i) Menghentikan hukuman jika tidak segera efektif.
Penanganan terhadap anak yang berperilaku agresif harus dilaksanakan secara menyeluruh, artinya semua pihak harus terlibat, termasuk orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan uraian pembahasan cara penanganan terhadap anak berperilaku agresif di atas dapat disimpulkan bahwa penanganan terhadap anak yang berperilaku agresif harus dilaksanakan secara menyeluruh, artinya semua pihak harus terlibat, termasuk orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya. Beberapa alternatfi penanganan terhadap anak berperilaku aresif dengan memberi hukuman yang efektif kepada anak dan perlu adanya pengertian dan kesabaran orangtua.

Senin, 06 Agustus 2012

Makalah Dimensi Sabda Dan Perbuatan Rosul


                                DIMENSI PSIKIS SABDA DAN PERBUATAN RASUL

        Pendahuluan
Dalam tradisi ilmu hadis, untuk menentukan kualitas sebuah hadis diperlukan serangkaian penelitian, baik menggunakan metode atau kaidah yang digunakan untuk menentukan kualitas sanad maupun metode untuk menentukan kualitas matan. Hal ini dilakukan karena kualitas keduanya tidak selalu sejalan. Tidak berhenti disitu, jika dilihat secara seksama akan terlihat bahwa ungkapan, perilaku dan ketetapan Nabi saw, selain bersifat lokal dan temporal juga bersifat universal. Pemahaman terhadap berbagai peristiwa disekeliling beliau tersebut jika dihubungkan dengan latar belakang terjadinya maka ada yang harus diterapkan secara tekstual dan ada yang harus ditetapkan secara kontekstual pada masa sekarang.
Dalam pada itu, adalah sebuah keniscayaan bahwa memahami sebuah hadis tidak cukup hanya melihat teks hadis namun juga perlu memperhatikan konteksnya karena tidak jarang ada hadis yang secara tekstual nampak bertentangan (mukhtalif) atau sulit dipahami (gharib). Nah ketika hadis itu memiliki asbab wurud, setidaknya dapat diraba kepada siapa hadis itu disampaikan dan dalam kondisi sosio-kultural yang bagaimana Nabi menyampaikannya. Hal itu perlu dikaji untuk menangkap pesan moral di dalamnya. Tanpa memperhatikan konteks historisitas tersebut, terkadang akan ditemui kesulitan dalam menangkap dan memahami makna suatu hadis, bahkan dapat membawa ke dalam pemahaman yang barangkali kurang sesuai.

 Pembahasan
Tema yang  akan dijelaskan pemakalah adalah bagaimana memahami hadits melalui pendekatan psikologi. Yang dimaksud dengan pendekatan psikologi dalam pemahaman hadits adalah memahami hadits memperhatikan kondisi psikologis Nabi Muhammad saw  dan masyarakat yang dihadapi Nabi ketika hadits tersebut disabdakan.  Sebelum masuk kepermasalah tersebut kita harus mengetahui fungsi hadits itu sendiri.  Kedudukan Nabi sebagai penjelas al-Qur’an sangat logis, karena Nabi Muhammad tidak seperti “pak pos” yang hanya mementingkan sampainya surat tersebut.
Samapainya hadits Nabi Saw kepada kita, ada yang memiliki sebab khusus dan ada yang datang tanpa sebab khusus. Sebab-sebab, peristiwa, kondisi atau pernyataan yang melatarbelakangi Nabi Saw menyampaikan  sabdanya kepada para sahabat. Hal itu sangatlah penting diketahui, untuk mencari relevansi antara bunyi teks hadits dengan konteksnya masa lalu.[1]
Sebelumnya ketika seseorang ingin mengetahui maksud atau pesan moral dari suatu hadits, maka memperhatikan konteks kepada siapa hadits tersebut disampaikan Nabi Saw,dalam kondisi sosio-kultural yang meliputinya. Tanpa memperhatikan konteks tersebuk, seseorang akan kesulitan ketika memahami maksud suatau hadits, bahkan ia dapat terpelosok ke dalam pemahaman yang keliru. Maka sagatlah penting mengetahui Asbabul Wurud dalam memahami hadits, sebagaimana pentingnya Asbabul Nuzul dalam memahami al-Qur’an.
Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul yang di utus oleh Allah pada umat untuk menjadi pelipur lara dan petunjuk. Sehingga masyarakat yang telah mempercayai kerasulannya mencari solusi dalam permasalahannya kepada Nabi Muhammad, ucapan, perilaku, dan ketetapan rasul dijadikan pedoman dalam kehidupan karena segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh rasulullah telah dijamin kewahyuannya yang telah disabdakan dalam ayat al-Quran yang berbunyi


وما ينطق عن الهوى ان هو الا وحي يوحى
 Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. (An-Najm)
Dari ayat atas dapat disimpulkan bahwa setiap perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad adalah wahyu yang mana kebenarannya dapat dipastikan keshahihannya. Maka ada Empat hal yang melatar belakangi kemunculan hadits sebagai berikut:
1.      Al-bu’du al-Mukhatibi
Yakni faktor yang dari pribadi Nabi SAW sebagai pembicara. Misalnya, hadits tentang berbekam pada saat beliau sedang ihram, ternyata hal itu dilakukan karena beliau sedang sakit kepala . yang membekam nabi waktu itu adalah Abu Thaibah dan bagian yang dibekam adalah kepala. Demikian kurang lebih penjelasan Ibn Hajr al-Asqalani dalam Fath al-Bari dengan mengutip pendapat Abu Hatim al-Razi.[2] Hadits tentang shalat menggunakan tongkat, karena beliau uzur. Demikian pula hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang sujud sahwi, ternyata karena beliau lupa tidak melakukan tasyahud awwal ketika shalat Zhuhur bersama para sahabat,[3] dan masih banyak contoh lain.
2.      Al-bu’du al-Mukhathabi
Yakni faktor yang berkaitan dengan kondisi orang yang diajak berbicara oleh Nabi SAW. Hal ini mempengaruhi gaya penuturan hadits. Terhadap seseorang yang suka menunda-nunda waktu shalat, beliau mengatakan: “sebaik-baik amal adalah shalat tepat pada waktunya “. Sementara kepada orang yang kurang berbakti kepada ibu bapaknya , Beliau mengatakan: “ sebaik-baik amal adalah berbakti kepada kedua orang tua”.
Pertanyaan yang satu dan hampir sama semua, namun Nabi memberikan jawaban yang berbeda-beda. Apakah ini menunjukkan bahwa Nabi SAW tidak konsisten? Sama sekali tidak bahkan justru kita bisa mengambilnya sebagai pelajaran, diantaranya:[4]
a.       Ini membuktikan bahwa Nabi SAW sangat bijaksana, Nabi SAW bersabda dan berbuat didasari pertimbangan kondisi psikologis dan sosiologis terhadap umat atau masyarakat yang dihadapi.
Pada contoh di atas Nabi SAW. menjawab: Shalat tepat pada waktunya, berbuat baik pada orang tua. Ini boleh jadi, karena yang bertanya atau orang yang ada di sekitarnya adalah orang yang kurang memperhatikan waktu shalat. Ia selalu shalat ketika waktunya sudah hampir habis. Begitu juga kurang memperhatikan kedua orang tuanya.
b.      Salah satu metode atau cara dalam memahami hadis Nabi SAW. adalah pendekatan sosiologis, artinya dalam melihat teks sebuah hadis kita tidak boleh hanya memahaminya semata-mata berdasarkan pada teks tulisannya saja, akan tetapi perlu memperhatikan situasi dan kondisi pada saat hadis itu diucapkan serta apa tujuan diucapkannya, sebagaimana hadis-hadis tersebut di atas.
c.       Ajaran Islam sangat luas cakupannya dan bersifat universal. Islam ini tidak hanya mengajarkan doktrin tentang bagaimana beriman, akan tetapi Islam ini harus dibuktikan dengan aktualisasi nyata dalam kehidupan riil berupa memberi makan, menciptakan suasana kondusif yang membuat orang lain aman dan selamat karena tidak saling menganggu antara satu dengan lainnya.
d.      Islam sangat menghargai keragaman (pluralitas) dan perbedaan dalam mengamalkan ajaran Islam. Seorang guru dalam berIslam, silakan mengajarkan ilmunya. Seorang pedagang dalam berislam, silakan berdagang dengan baik dan benar. Seorang petani dalam berislam, silakan bekerja dengan tekun.
e.      Ajaran Islam ini, tidak saja pada keimanan dan ibadah seperti shalat tepat pada waktunya, akan tetapi juga mengatur bagaimana berakhlak dan berhubungan dengan sesama dalam kehidupan sosial kemanusiaan. Misalnya berakhlak kepada kedua orang tua dengan berbuat baik kepada keduanya, dan tidak mengganggu orang lain dengan cara menahan amarah, menjaga lidah untuk selalu berkata-kata secara sopan dan santun, serta menjaga tangan untuk tidak mengambil hak yang bukan miliknya.
f.         Ajaran Islam tidak memberatkan, tapi justru meringankan dan menyenangkan. Islam mengajarkan supaya melakukan aktivitas keagamaan ini jangan memaksakan diri, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kesempatan dengan catatan tetap berkesinambungan walaupun sedikit.
g.       Islam mengajarkan supaya ada pendirian yang tegas dan konsisten terhadap ajaran Islam.
h.      Islam mengajarkan supaya mampu mengendalikan diri, tidak marah seenaknya tanpa perhitungan. Pemarah berarti marah bukan pada waktu dan tempatnya. Marah secara baik dan benar, yakni karena ada pelanggaran terhadap ajaran prinsip dalam beragama. Seperti ketika ada yang merusak agama, nyawa, akal, keturunan, dan harta.
3.      Al-bu’du al-Zamani
Yakni aspek yang berkaitan dengan waktu atau masa dimana Nabi menyampaikan sabdanya. Sebagai contoh hadits tentang larangan ziarah kubur. Ternyata, karena waktu itu banyak orang berziarah kubur bukan untuk mengingat mati atau akhirat, melainkan berbuat kemusyrikan dan meratapi mayat yang sudah meninggal dunia. Kemudian Nabi SAW memerintahkan ziarah kubur karena bisa mengingatkan seseorang akan akhirat, sehingtga hadits larangan ziarah kubur sudah di naskh (dihapus), kemudian Nabi justru memerintahkannya. Dari hadits tersebut Imam al-Nawawi berpendapat ziarah kubur sunnah hukumnya, sebab bisa mengingatkan seseorang akan adanya akhirat.[5]

4.      Al-bu’du al-Makani
Yakni aspek yang berkaitan dengan tempat atau kondisi geografis dimana menyampaikan hadits. Ini sangat penting diketahui untuk memahami maksud suatu hadits. Sebagai contoh adalah hadits tentang tidak ada hijrah sesudah fathu makkah (pembukaan kota makkah).
Ada sebagian orang yang salah paham mengenai hadits tersebut, bahwa setelah pembukaan kota mekkah tidak ada lagi hijrah dari satu tempat ke tempat lain. sehingga ia berpendapat sekarang tidak ada tuntutan hijrah. Padahal Nabi SAW bersabda “ tidak ada hijrah sesudah Fathu Makkah”. Karena mekkah telah berubah menjadi daerah yang islami, sesudah tadinya menjadi daerah jahili atau kufr. Sehinnga sebenarnya tuntutan hijrah atau berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, tetap berlaku. Bagi orang yang tempat tinggalnya masih kafir atau jahili, dimana  para penganut Islam ditindas di sana, maka perintah hijrah tetap berlaku. Itulah sebabnya Aisyah ketika ditanya tentang hijrah, beliau menjawab: “ Tiada hijrah hari ini, dului orang-orang mukmin melarikan diri dengan membawa agamanya kepada Allah dan Rasulullah, karena takut difitnah. Sekarang Allah telah memenangkan Islam. Hari ini seorang muslim dapat menyembah Tuhannya dimana Ia mau.
Dengan demikian, ucapan Nabi SAW tersebut atas dasar kemenangan Islam di kota Makkah. Ini memberi isyarat bahwa perintah hijrah karena kaum muslimin difitnah, sehingga tidak bisa melaksanakan agamanya secara leluasa. Maka bagi kaum muslimin di daerah yang masih tertindas, tidak bisa melaksanakan agama dengan bebas, maka hadits tersebut tidak berlaku baginya. Artinya. Ia tetap perlu hijrah menuju daerah yang mampu menjamin keamanan dan kebebasan menjalankan ajaran agamanya. Demikian kurang lebih penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam fath al-Bari Syarh Matn Shahih al-Bukhari.[6]
   
                     Simpulan
Ada Empat hal yang melatar belakangi kemunculan hadits sebagai berikut:
1.      Al-bu’du al-mukhatibi
Yakni faktor yang dari pribadi Nabi SAW sebagai pembicara. Misalnya, hadits tentang berbekam pada saat beliau sedang ihram, ternyata hal itu dilakukan karena beliau sedang sakit kepala.
2.      Al-bu’du al-mukhathabi
Yakni faktor yang berkaitan dengan kondisi orang yang diajak berbicara oleh Nabi SAW. Hal ini mempengaruhi gaya penuturan hadits.
3.      Al-bu’du al-zamani
Yakni aspek yang berkaitan dengan waktu atau masa dimana Nabi menyampaikan sabdanya. Sebagai contoh hadits tentang larangan ziarah kubur.
4.      Al-bu’du al-makani
Yakni aspek yang berkaitan dengan tempat atau kondisi geografis dimana menyampaikan hadits. Ini sangat penting diketahui untuk memahami maksud suatu hadits. Sebagai contoh adalah hadits tentang tidak ada hijrah sesudah fathu makkah (pembukaan kota makkah).

    Penutup
Demikianlah makalah yang dapat saya buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan demi untuk memperbaiki makalah-makalah saya yang selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin…


REFERENSI
Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh li Matn Shahih al-Bukhari dalam CD al-Maktabah al-Syamilah, Edisi 2.11 
Alwi Abbas al-Maliki dan Hasan Sulaiman al-Mauri, Ibanah al-Ahkam: Syarh Bulugh al-Maram, juz 1, Syarikah Syarli, Mesir, tth
Abdul mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits Paradigma Interkoneksi: Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadits, Idea Press, Yogyakarta, 2008
Ma’mun Mu’min, Psikologi Tafsir Hadits, STAIN Kudus, Kudus, 2009





[1] Ma’mun Mu’min, Psikologi Tafsir Hadits, STAIN Kudus, Kudus, 2009, Hal.64

[2]  Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh li Matn Shahih al-Bukhari dalam CD al-Maktabah al-Syamilah, Edisi 2.11  
[3] Alwi Abbas al-Maliki dan Hasan Sulaiman al-Mauri, Ibanah al-Ahkam: Syarh Bulugh al-Maram, juz 1, Syarikah Syarli, Mesir, tth, hal. 466
[4] Abdul mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits Paradigma Interkoneksi: Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadits, Idea Press, Yogyakarta, 2008, hal. 31-32
[5] Op.Cit
[6] Ibid, hal. 33

Adsense Indonesia
Review wachidskom.blogspot.com on alexa.com
Loading...

Followers

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More